Ada salah satu teknik menentukan harga yang kini lagi marak-maraknya kita jumpai di supermarket atau departement store di indonesia. Teknik penetapan harga tersebut, baru disadari oleh banyak konsumen pada awal tahun milenium (2000) di indonesia sendiri. Teknik itu dinamai dengan Psychological PricingPsychological Pricing  adalah strategi harga / pemasaran berdasarkan teori bahwa harga tertentu memiliki dampak psikologis yang lebih besar pada konsumen daripada yang lain.  Berikut merupakan beberapa contoh dari “psychological pricing” yang dapat anda coba untuk bisnis anda:

Buy 1 Get 1 Free

Dengan strategi ini, orang yang membeli barang kita otomatis akan mendapatkan 1 barang lagi secara gratis (buy 1 get 1 free). Jika kata beli 1 gratis 1 menggaung di kepala, maka secara logis dan rasional orang akan cenderung membeli produk tersebut dengan motif mendapatkan 1 barang gratis. Padahal mungkin sebelumnya tidak terbesit sama sekali di pikiran orang tersebut untuk membeli produk kita.

Sayangnya, karena ini adalah strategi lama dan sudah banyak sekali perusahaan yang mengadopsi teknik ini, maka makin kesini semakin sedikit orang-orang yang “terjebak” dalam skenario beli 1 gratis 1 ini. Namun, bukan berarti anda tidak dapat memakai teknik ini sama sekali.

Sebaliknya, anda bisa menjadikan substansi dari adanya teknik ini sebagai insight untuk kemudian anda modifikasi. Anda bisa membuat penawaran lain dengan inti yang sama: menyerang karakteristik logis dan rasional manusia.

Contoh dari pengembangan konsep beli 1 gratis 1 yang menjadi praktik banyak perusahaan saat ini adalah sebagai berikut:

Beli 1 dapat 25% diskon untuk pembelian setelahnya.
Beli 1 gratis 3.
Beli 1 dapat voucher Rp 50.000 untuk pembelian setelahnya.

Visual harga yang berbeda.

Sudah hal yang lumrah, jika sebagian besar calon konsumen akan keliling atau menyelusuri gerai untuk mencari harga yang lebih murah ketika mencari satu jenis barang tertentu. Dengan budaya tersebut, sebenarnya dapat Anda gunakan teknik psychological pricing agar harga produk Anda lebih condong terlihat , tapi secara umum di toko, price tag atau label harga telah dibuatkan oleh penjual barang, sehingga font atau ukuran harga tidak dapat kita sesuaikan sendiri.

Tetapi ada cara efektif lain yang dapat Anda gunakan, yaitu dengan menyertakan harga kedalam kemasan produk Anda. Seperti yang dilakukan oleh Big Cola di tahun 2015. Produk minuman bersoda itu mencantumkan harganya juga di plastik kemasannya, sehingga ketika disupermarket atau minimarket, calon konsumen akan lebih condong melihat harga produknya tersebut. Hal itulah yang membuat big cola sukses menggunakan teknik yang masih jarang digunakan di indonesia pada umumnya, karena teknik ini hanya sering kita jumpai dipasar pelelangan, yang dimana seluruh penjual dipasar tersebut saling berlomba-lomba memaparkan harga jualannya ke konsumen yang melintas disekitarnya.

Trik ini memicu efek kelancaran dan penafsiran perbedaan visual untuk perbedaan angka yang lebih besar, menurut penelitian tahun 2005 oleh Keith Coulter dan Robin Coulter.

Menurut Penelitian, dengan mengubah font, ukuran dan warna dari signage untuk harga jual saat itu dan menempatkannya sedikit jauh dari harga sebelumnya akan meningkatkan jumlah pembelian, karena pelanggan melihat harga baru sebagai lebih murah dan lebih baik dari harga sebelumnya.

Kurangi 1 Digit Dari Harga Normal (Charm Pricing)

Trik psikologi harga yang kedua adalah dengan mengurangi 1 digit dari harga normal. Ini juga termasuk terknik yang paling sering digunakan. Yakni, dengan mengurangi 1 digit/ 1 rupiah dari harga normal. Contohnya, seperti yang telah dibahas di atas. Dari harga normal Rp. 50.000, ditulis menjadi harga Rp. 49.999, atau dari harga normal Rp. 100.000 menjadi harga Rp. 99.999.

Pengurangan 1 digit ini ternyata bisa memainkan kondisi psikologis konsumen lho! Meskipun hanya selisih 1 rupiah saja, mereka berpikir harga yang telah dikurangi 1 digit tsb terkesan lebih murah, karena mengira Rp. 99.999 hanya 90 ribuan saja (tidak sampai 100 ribu).

Prestige Pricing

Strategi Prestige adalah kebalikan dari charm pricing atau poin sebelumnya. Prestige melibatkan semua nilai numerik menjadi angka bulat, jadi misalnya harganya Rp 199.472, kemudian penjual membulatkan menjadi Rp 200.000.

Anda mungkin bertanya-tanya mengapa. Menurut Kuangjie Zhang dan Monica Wadhwa pada sebuah studinya di tahun 2015, membulatkan harga (misalnya, Rp. 200.000) akan lebih lancar diproses dan mendorong ketergantungan pada perasaan konsumen, dibandingkan dengan angka non-bulat (misalnya, Rp. 199,472) yang kurang lancar diproses dan mendorong ketergantungan pada kognisi.

Ini berarti bahwa angka bulat ada sisi positif karena pembelian yang didorong oleh perasaan dan harga diproses dengan cepat. Teknik ini biasanya diterapkan pada produk-produk bernilai harga rendah seperti makan ringan, minuman dingin dan sebagainya.

Sumber:

temanbisnisapp.com/inspirasi/5-contoh-psychological-pricing-yang-bisa-anda-coba/
interactive.co.id/blog/psikologi-harga-dalam-membuat-program-diskon-yang-terlihat-menggiurkan-145.html
ofamni.com/cara-menentukan-harga-dengan-menggunakan-teknik-psychological-pricing/

Ingin Info Menarik Lainnya?

Kunjungi Web